Sarana Mendunia

Dharma Maruli Tampubolon’s website

Akhir dari sebuah penantian

Posted by dmruli on November 2, 2006

Alhamdulillahi rabbil alamin puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, pada tanggal 16 Januari 2007 yang lalu, telah lahir dengan selamat putra kami tercinta, di rumah sakit Persahabatan Jakarta. Proses persalinan berlangsung dengan lancar meski menunggu dengan harap-harap cemas.

Alfi

Indikasi persalinan terlebih dahulu ditandai dengan sering mules dan kejangnya perut istriku. Hal itu mulai dirasakannya sekitar jam 2.00 malam, sehari sebelumnya.Biasanya dalam kesehariannya, ketika menjelang malam istriku dapat tidur dengan nyenyak hingga dini hari. Kalau pun kadang sempat terbangun pada tengah malam, hal itu dilakukan hanya untuk ke toilet, setelah itu dapat tidur nyenyak kembali. Namun entah kenapa pada malam itu tidak seperti biasanya. Walau telah dipaksa untuk tidur tetapi mata tidak dapat dipejamkan. Kegelisahan bercampur dengan rasa sakit pada saat itu menyergap istriku hingga menjelang dini hari. Setelah mencoba untuk bertahan hingga subuh, akhirnya istriku memberikan isyarat padaku bahwa sebentar lagi akan segera melahirkan si buah hati.

Setelah aku menunaikan shalat subuh, kami langsung bergegas ke rumah bersalin yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat kami tinggal. Setelah diadakan pemeriksaan singkat, bidan menyatakan bahwa istriku beresiko tinggi untuk melahirkan secara normal. Alasannya bahwa istriku telah melakukan Caesar ketika melahirkan putri kami yang pertama. Sehingga untuk melahirkan putra kami yang kedua kemungkinan besar akan dilakukan hal yang sama. Mendengar keterangan yang disampaikan , maka pupus sudah harapan istriku untuk dapat melahirkan secara normal. Namun sebelum kami beranjak pergi , bidan menyarankan agar kami mencoba ke rumah sakit besar untuk proses persalinannya. Pertimbangannya disamping peralatan yang lengkap dan memadai, juga didukung oleh para dokter yang berpengalaman.

Pada saat itu waktu telah menunjukan pukul 7.15 WIB. Lalu lintas yang sebelumnya lengang berangsur-angsur mulai padat. Saat itu pikiranku masih berkecamuk, mengingat biaya persalinan dengan Ceasar tidaklah sedikit. Namun pada saat itu juga aku mesti mengambil keputusan cepat, karena kondisi istriku sudah sedemikian mengkhawatirkan. Dalam perjalanan aku terus mencoba untuk menenangkannya.

Ketika masih dalam perjalanan, aku mencoba untuk berbelok ke Rumah Sakit Jayakarta, tempat kelahiran putri pertama kami. Sekadar mencari informasi mengenai besaran biaya yang harus dikeluarkan untuk persalinan Caesar maupun normal. Namun setelah kami dapatkan informasi tersebut, ternyata biaya yang harus dikeluarkan berbeda denganyang kami kira sebelumnya. Lagi-lagi kami hampir merasa putus asa. Bagi kami biaya itu terlalu besar untuk ukuran kami. Mungkin bagi yang mempunyai kecukupan dana, biaya sebesar itu tidak menjadi masalah. Untuk masalah yang kecil saja aku harus pandai mengatur keuangan, apalagi untuk masalah yang membutuhkan biaya yang sangat besar, rasanya semakin pesimis saja.

Istriku sangat gelisah pada saat itu. Kami merasakan hal yang sama antara harapan untuk dapat melahirkan normal dan kekhawatiran akan melahirkan secara Caesar.Istriku pada saat yang sama juga mengkhawatirkan kalau-kalau akan segera melahirkan saat itu juga. Dalam tenggang waktu yang mendesak itu pula aku memutuskan untuk ke RS Persahabatan. Dengan pertimbangan RS Persahabatan adalah milik pemerintah, sehingga biaya melahirkan dapat ditekan. Kalaupun mesti di Caesar mungkin tidak semahal rumah sakit swasta.

Sesampai di RS Persahabatan, aku langsung bergegas mencari informasi sebanyak mungkin mengenai biaya persalinan berikut hal-hal yang terkait dengannya. Setelah info kami dapatkan barulah aku urus segala sesuatunya kebagian administrasi. Ternyata biaya persalinan normal maupun Ceasar tidak sebesar di RS Swasta. Agak sedikit lega rasanya setelah mengurus administrasi persalinan isriku, meski dalam pengurusannya aku mesti bolak balik naik turun lift serta harus menggendong putriku Alya yang kebetulan saat itu sedang berulang tahun. Sedih bercampur haru aku rasakan karena disaat hari Ulang Tahun Alya, aku tidak sempat memberikan perhatian yang selayaknya untuk putriku. Namun demikian, aku dapat membayarnya dengan kuajak serta dalam kesibukan mengurus calon adiknya yang akan segera lahir. Biarlah aku letih menggendong Alya, asalkan Alya putriku selalu dalam pelukanku.

Waktu terus bergulir, jam telah menunjukan pukul 14.00 WIB. Namun tanda-tanda persalinan istriku belum juga muncul. Kekhawatiran dan kegelisahan senantiasa menghantuiku. Harap-harap cemas akan keselamatan mereka berdua. Dalam masa penantian itu tak putusnya aku bermohon kepada Allah SWT, agar diberikan kelancaran dan keselamatan. Diberikan persalinan yang normal adalah harapan kami berdua. Zikir dan doa senantiasa selalu membasahi lisanku yang setiap waktu ku lafaz-kan manakala kegelisan itu datang menghampiriku.

Sekitar jam 15.10 WIB, seorang petugas RS Persahabatan memanggil nama istriku. Hatiku berdebar-debar mendengar panggilan itu. Saat itu juga aku langsung menghampirinya, dengan tergesa-gesa aku tanyakan keadaan istriku, apakah sudah lahir atau belum. Petugas RSP mengatakan “bapak mohon bersabar, karena sebentar lagi istri bapak akan segera melahirkan, saat ini istri bapak sedang ditangani oleh tim dokter”. Mendengar kabar tersebut maka makin berdebar-debarlah jantungku. Doa dan munajat kepada Allah SWT senantiasa aku mohonkan, untuk keselamatan mereka.

Tidak lama berselang, tepatnya jam 15.20 WIB istriku dapat melahirkan si buah hatiku dengan normal. Mendengar kabar yang disampaikan petugas RSP tersebut serasa aku ingin menangis. Perasaan haru tidak dapat ku sembunyikan dari wajahku. Tak terasa airmata bahagia menetes dari pelupuk mataku. Puji syukur kepada ALLAH SWT senantiasa aku ucapkan. Karena berkat kebesaran dan kekuasaan-NYA pula sesuatu yang menurut perkiraan manusia tidak mungkin,namun bagi-NYA semuanya mudah. Jadi kalau Allah SWT telah berkehendak “jadilah” maka sesuatu itu akan benar-benar terjadi. Maha suci Allah SWT dengan segala kekuasaan-NYA.

Saat itu pula langsung aku sampaikan kabar bahagia tersebut kepada orang tua dan mertuaku. Mendengar kabar yang ku sampaikan mereka nampak sangat bahagia sekali menyambut kehadiran cucu barunya. Tak lupa kabar itu aku sampaikan pula via sms ke adikku serta kepada orang-orang terdekat. Ucapan selamat senantiasa datang mengalir dari mereka, terlebih dari seniorku dikantor. Harapannya semoga dapat memberikan keberkahan bagi kedua orang tuannya.

Dengan lahirnya putra kami, pada tanggal 16 Januari 2007. secara tidak sengaja tanggal tersebut merupakan pula tanggal kelahiran putri pertamaku (Alya Alifia Tampubolon). Di tanggal yang sama terdapat hari ulang tahun yang sama bagi kedua buah hatiku. Sehingga tanggal tersebut adalah tanggal yang sangat spesial bagi keluarga kami, yang mana bukan saja sangat membahagiakan tetapi juga mengharukan.

Buah hati kami yang baru saja dilahirkan, kami beri nama ALFITRA AZHAR TAMPUBOLON. Semoga kelak putra kami ini menjadi anak yang sholeh, yang berakhlak mulia, serta dapat membanggakan kedua orang tuanya ….amin….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: